Blog ini kami buat sebagai pembelajaran... kami sangat terbuka jika ada saran saran dari teman teman mengenai blog ini...


Tampilkan postingan dengan label Photography. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Photography. Tampilkan semua postingan

Mengubah EXIF MetaData Sebuah Photo

Metadata adalah istilah dalam dunia teknologi informasi yang berarti data dari sebuah data, artinya data yang Anda miliki masih menyimpan data lain dari data yang Anda miliki. Metadata ini letaknya ada di dalam file dan bentuknya tidak terlihat langsung.
Biasanya metadata ini digunakan untuk keperluan digital forensic atau penyelidikan terkait dengan masalah dunia digital.
Sedangkan EXIF sendiri merupakan metadata yang “hanya” digunakan dalam dunia digital photography. Dari namanya EXIF dapat diterangkan sebagai Exchangeable Image File Format.
EXIF dikembangkan oleh Japanese Electronics Industry Development Association (JEIDA) sebagai upaya untuk mempermudah dan membuat standar pertukaran data antara perangkat lunak pengolah gambar/citra digital dan perangkat keras seperti kamera.
Informasi umum yang bisa Anda dapatkan dari EXIF sebuah foto digital adalah antara lain :
1. Tanggal dan jam berapa sebuah foto dibuat
2. Merk, tipe kamera, dan jenis lensa yang dipakai untuk memotret/menghasilkan foto
3. Resolusi dari kamera yang digunakan untuk mengambil gambar
4. Digunakan atau tidaknya fitur flash pada kamera
5. Lokasi dimana file tersebut diambil jika kamera yang digunakan mendukung GPS
Masih banyak hal terkait dengan kamera yang tersimpan dalam sebuah EXIF, dengan EXIF kita dapat membandingkan perbedaan hasil jepretan dari kamera yang berbeda, termasuk EXIF foto yang telah direkayasa dengan software tambahan yang akan kita bahas di sini.
Bagaimana kita bisa melihat EXIF dari sebuah foto?
Melihat EXIF sebuah foto secara instant dari fitur properties bawaan sebuah Operating System dirasa terlalu mudah dan menghasilkan keakuratan yang rendah. Untuk melihat EXIF dari foto secara lengkap kita bisa menggunakan software yang khusus digunakan untuk itu. Di Linux, utamanya seperti Backtrack dan Backbox linux kita mengenal software Exiftool dalam shell mode (berbasis teks). Di Windows juga dibuat exiftool oleh pembuat yang sama yaitu Phil Harvey, namun kelebihan di Windows ini kita bisa menggunakan exiftool dalam GUI mode (berbasis visual) yang memudahkan penggunaan exiftool. Anda bisa mendapatkan exiftool dari website aslinya langsung dengan download disini:

http://owl.phy.queensu.ca/~phil/exiftool/

Dan saya membuat mirror windowsnya untuk memudahkan praktikum kita kali ini disini:
http://www.pakarti.web.id/wp-content/uploads/exiftool/exiftool_windows/exiftool-8.90.zip
http://www.pakarti.web.id/wp-content/uploads/exiftool/exiftool_windows/exiftoolgui510.zip
Cara install exiftool di Windows :
1. Download exiftool dari alamat web yang saya berikan tadi
2. Extract exiftool-8.90.zip ke Windows directory, sebagai contoh C:\Windows

3. Rename exiftool(-k).exe yang gambar unta menjadi exiftool.exe tanpa (-k)
4. Kemudian extract exiftoolgui510.zip ke tempat yang mudah untuk Anda mengakses exiftool GUI
5. Mulai exiftool GUI dengan menjalankan ExifToolGUI.exe

Pembahasan 1, Melihat EXIF sebuah Foto
Kita umpamakan akan melihat exif foto dari orang yang gambarnya ada di bawah ini :
Buka exiftool dan arahkan ke lokasi dimana foto tersebut berada, Anda akan melihat detail EXIF di panel bagian kanan. Bagian yang berwarna biru muda dalam gambar adalah keterangan terkait dengan kamera atau software yang digunakan.
Dari gambar di atas kita memperoleh keterangan bahwa gambar/foto tersebut diambil dengan kamera CASIO dengan model EX-Z33, orientation Horizontal (normal), software 1.00, flash auto, focallength 13.1 mm. Yang menandakan bahwa file foto tersebut asli hasil jepretan kamera.
Lalu bagaimana melihat EXIF file hasil editan photoshop? Arahkan exiftool ke foto editan
Dari gambar di atas kita melihat baris Software memunculkan value Adobe Photoshop CS4 Windows yang menandakan bahwa file foto tersebut hasil editan Photoshop. Meskipun menggunakan kamera ponsel model Nokia 6120classic namun foto yang sudah sedikit saja tersentuh software akan meninggalkan jejak khas dari software tersebut.

Pembahasan 2, Manipulasi EXIF sebuah Foto
Pada pembahasan ini kita akan mempelajari teknik penghapusan EXIF metadata software pada sebuah foto. Arahkan exiftool pada foto editan yang telah kita buka tadi. Pada menubar pilih Modify lalu pilih Remove metadata.

Untuk memudahkan pilih remove ALL metadata lalu klik Execute, kini semua metadata telah berubah, masih ada bagian yang menandakan Adobe (masih ada sentuhan software).
Kita coba untuk mengimpor EXIF metadata dari foto lain, usahakan fotonya agar sama atau paling tidak “mirip”.
Pada menubar pilih Export/Import lalu pilih Copy metadata from single file, klik OK, pilih file yang metadatanya akan dimasukkan ke foto editan lalu klik Open. Pilih import ALL metadata. Sekarang metadata sudah berhasil dimodifikasi dengan keterangan hasil jepretan kamera ponsel Nokia tanpa embel-embel lain pada bagian Software, tinggal sedikit dimodifikasi nilainya.
Malangnya pada gambar di atas masih muncul keterangan Adobe. Pada pembahasan berikutnya kita akan mencari cara untuk menghilangkan keterangan Adobe ini.

Pembahasan 3, Menghilangkan ciri khas software
Pada pembahasan sebelumnya foto yang telah kita edit masih menyertakan embel-embel Adobe. Teknik umum yang biasa digunakan oleh pemalsu foto adalahmengedit foto dengan software lain sebelum diproses.
Foto yang telah diedit dengan software akan menyisakan jejak ciri dari software tersebut, untuk merubah jejak software tersebut tentunya kita harus menggunakan software lain. Intinya jejak software lama akan ditimpakan dengan jejak software baru yang bisa dihilangkan. Saya biasa menggunakan Paint dengan catatan ukuran file akan berubah dari ukuran file semula.
Pertama copy foto yang akan diedit beserta foto yang masih murni hasil jepretan kamera yang sama atau “mirip” ke directory lain misal di My Documents. Buka file foto editan dengan Paint lalu Save As dengan nama yang sama, jangan ada pengeditan lain apa pun itu.
Di sini ukuran gambar saya akan mengecil. Buka exiftool lagi arakhan ke gambar yang baru saja disimpan. Sekarang pertanda baik, tidak ada keterangan Adobe. Remove lagi metadata seperti tadi lalu impor metadata dari file foto asli.
Tidak ada keterangan Adobe lagi, exif juga mirip dengan file lain. Tinggal sedikit kustomisasi pada exif foto.

Pembahasan 4, Replace thumbnails
File foto yang telah ditindih EXIF metadata-nya dengan EXIF metadata dari file foto lain akan mengikutkan thumbnail gambar foto lain ke dalam foto yang diedit. Tidak terlihat sekilas memang, tapi akan terlihat setelah kita menggunakan tool Exifer.
Dari gambar di atas terlihat perbedaan thumbnail sekilas dengan thumbnail yang dilihat dengan software Exifer. Data sekilas menunjukkan thumbnail yang sama dengan gambar tapi kenyataannya berbeda, thumbnail masih mengikut pada foto lain yang tadinya diimporkan EXIF metadata-nya kedalam foto tersebut.
Nah di dalam Pembahasan 4 ini kita akan mempelajari teknik pe-replace-an thumbnail file foto. Pertama buka tool Exifer lalu arahkan ke foto editan yang EXIF metadata-nya telah dirubah seolah asli. Pilih submenu Thumbnail dari menu EXIF/IPTC, pilih Insert thumbnail lalu arahkan ke foto editan yang thumbnailnya masih murni.
Lalu OK, pilih replace. Sekarang thumbnail telah seperti semula. Tinggal sesuaikan tanggal modifikasi dan tanggal pembuatan seperti semula.
Sekarang siapa yang tahu kalau itu foto editan? :)
Sebenarnya masih ada banyak cara untuk menyamarkan EXIF metadata ini seperti :
1. Menggunakan kamera yang memiliki photo editor (kamera haurs sama). Caranya dengan memasukkan foto kedalam kamera lalu menetapkan tanggal dan dan waktu pengeditan foto pada kamera dengan tanggal dan waktu pengambilan foto. Beberapa kamera berhasil menggunakan cara ini.
2. Save as web pada photoshop
3. Menggunakan software exifer untuk menindih Exif metadata seperti tadi
Pengambilan gambar dari media web tidaklah valid, karena ketika didownload kadang EXIF metadata telah dimodifikasi. Untuk penyelidikan ambilah gambar/foto yang berasal dari media fisik seperti flashdisk/CD/memory card. Namun hal ini juga tidak dapat dijadikan patokan, teknologi semakin berkembang dan foto palsu pun sekarang bisa jadi asli seperti yang telah kita praktikkan. Untuk mencocokan hash juga tidak mudah karena tidak diketahui mana foto yang sekiranya asli. Orang biasanya menilai bila hash file berbeda maka tidak ada file yang asli.

Sumber : http://www.binushacker.net/mengubah-exif-metadata-sebuah-foto.html

Fitur video pada kamera DSLR

Coba simak fitur apa yang ditonjolkan saat kamera-kamera DSLR baru bermunculan? Bukan lagi fitur tentang foto (karena teknologi fotografi digital sudah sangat baik) tapi fitur video lah yang digembar-gemborkan. Hal ini memang agak terkesan dipaksakan karena mayoritas orang membeli DSLR untuk memotret, bukan untuk merekam video. Peningkatan fitur video di DSLR akan membuat harga kamera tersebut jadi tinggi, padahal belum tentu semua orang akan memakai fitur video itu.

Saya akan kupas sedikit soal ini. Kenapa kamera DSLR sekarang begitu ‘ngotot’ ingin menjadi alat rekam video yang canggih? Karena DSLR bisa dijadikan alat produksi klip video profesional, dengan hasil yang juga profesional, namun dengan biaya murah. Hasil video dari kamera DSLR bisa memberi bokeh seperti film bioskop, sementara saat memakai ISO tinggi hasil videonya masih bagus dan juga bisa berganti lensa untuk berbagai kebutuhan angle untuk setiap episodenya. Tapi untuk menjadikan DSLR sebagai perekam video seperti itu perlu didukung berbagai alat tambahan layaknya proses produksi film atau sinetron.

Kita, yang mungkin awam dengan produksi film lantas bertanya-tanya, bagaimana fitur video di DSLR ini kita manfaatkan untuk membuat klip sehari-hari, untuk dokumentasi atau acara keluarga dan sebagainya? Satu hal yang anda perlu ingat baik-baik dalam video DSLR adalah sulitnya mendapat fokus yang tepat. Hal ini karena saat merekam video, DSLR kehilangan kemampuan auto fokus andalannya (yang berbasis deteksi fasa) dan beralih ke auto fokus berbasis tebak-tebakan (deteksi kontras). Padahal video yang baik harus tetap fokus saat obyek bergerak (mendekat atau menjauh ke kamera), saat kamera bergerak (pan dan tilt) serta saat lensa di zoom (in dan out) atau kombinasi ketiganya. Kamera DSLR akan sangat-sangat kesulitan untuk terus menerus mempertahankan fokus ke obyek (faktanya baru Nikon yang bisa memberi fitur AF-F atau Auto Fokus yang kontinyu, tapi itupun dalam prakteknya sering sekali gagal). Jadi apa solusinya? Manual fokus dengan memutar ring fokus di lensa adalah satu-satunya cara terbaik, namun sangat sulit dan tidak semua lensa enak dipakai manual fokus.

Jadi bagaimana untuk merekam video yang sifatnya sekedar iseng atau dokumentasi biasa? Sebuah Contoh : kamera saku Canon Ixus 220 HS. Kamera saku ini sudah bisa merekam video full HD (1920 x 1080 piksel), 30 fps, stereo dan bisa zoom optik saat merekam video. Sudah pasti kamera saku ini kalah dengan DSLR dalam urusan hasil, namun soal auto fokus saat merekam video kamera saku ini lebih handal. Selain itu perlu diingat kalau kamera saku punya DoF yang lebar, alias ruang tajam yang luas. Bila kamera memfokus pada obyek yang berada 2 meter di depannya, maka latarnya pun masih cukup tajam, sehingga kalaupun kamera salah mengunci fokus hasilnya masih lumayan (bandingkan pada DSLR bila fokusnya tidak pas maka akan sangat blur).

sumber : http://www.moviescopemag.com/

Lalu kapan fitur video di DSLR ini kita pakai? Bila anda kuliah di produksi film, atau suka bikin klip musik atau senang membuat dokumenter, maka gunakan DSLR. Tapi siapkan semuanya, mulai dari story board, skenario, lensa yang enak untuk manual fokus, tripod, dolly track, mic eksternal dan berbagai peralatan lainnya. Lalu sebelum mulai merekam video tentukan dulu berapa bukaan lensanya, berapa shutter speednya dan berapa ISOnya. Setelah itu mulailah merekam dengan durasi singkat, misalnya 1-2 menit lalu stop. Hal ini karena sensor DSLR akan panas setelah beberapa menit merekam video.

Itulah share saya tentang fitur video pada kamera DSLR. Bukan bermaksud membuat anda patah semangat, justru jadikan lah fitur canggih di kamera kita sebagai pemicu untuk berkreasi membuat klip video yang terencana. Sedangkan untuk dokumentasi biasa, gunakan saja kamera saku atau bahkan kamera ponsel. O ya, yang benar ya gunakan saja camcorder :)

RAW vs JPEG: Format Mana Yang Lebih Baik?

Pengguna kamera digital SLR atau Saku tingkat lanjut (prosumer) sering dihantui pernyataan mendasar sebelum memulai pemotretan: format file apakah yang akan saya pilih, JPEG/JPG ataukah RAW?
Artikel ini akan membahas secara singkat dan mudah (dijamin tidak ada persamaan matematika dan fisika) beda diantara keduanya. image

Pada dasarnya kebanyakan kamera bekerja dengan cara seperti ini: Saat kita memencet tombol shutter, kamera akan merekam data mentah yang diterima sensor (baca RAW). Berdasar data ini, software di dalam kamera akan memutuskan beberapa parameter, misalnya seberapa jauh foto perlu dipertajam, setting white balance mana yang sesuai, berapa level eksposur yang dipakai, seberapa besar saturasi warna-nya dan seberapa besar beda kontrasnya dll. Hasil pengolahan data oleh software di dalam kamera ini selanjutnya dikirim ke memory card dalam bentuk file JPEG.

Sudah paham bedanya kan?
Ya, RAW adalah data mentah yang langsung ditangkap sensor sedangkan JPEG adalah data matang yang sudah diolah oleh software kamera. Jika kita memutuskan untuk memilih format RAW, berarti kita memerintahkan kamera untuk langsung mengirim data mentah dari sensor ke memory card. Dan kalau kita memilih format JPEG, berarti kita memerintahkan kamera untuk memproses data dari sensor terlebih dahulu sebelum mengirim ke memory card.

Kenapa harus ada format RAW?
Bagi sebagian besar penggemar fotografi, hasil olahan kamera seringkali sudah cukup bagus. Namun bagi kalangan profesional dan hobiis serius, mereka tidak rela kamera mengotak-atik foto yang mereka jepret. Format RAW membuat kita bisa mengubah-ubah parameter pemotretan sesuka kita. Dengan bantuan software pengolah RAW (photoshop, lightroom, GIMP, ACDSee dll), kita bisa mengubah nilai eksposur, white balance, saturasi sampai kontras untuk kemudian menyimpannya dalam format yang lain: JPG atau TIFF.

Keuntungan memakai RAW?

  • Kita bisa mengotak – atik file mentah menjadi foto matang sesuai keinginan kita.
  • Opsi pengolahan foto menjadi jauh lebih banyak sehingga mereka yang berjiwa super kreatif lebih terpuaskan
  • Informasi yang tersimpan lebih banyak (jika anda memilih JPEG, kamera akan menghilangkan sebagian kecil data untuk memperkecil ukuran file dan mempercepat proses pengolahan)
  • Kualitas foto secara keseluruhan lebih baik, ini berkaitan dengan adanya kompresi jika memakai JPEG

Kerugian memakai RAW?

  • Memakan kapasitas hardisk dan memory card. Karena tidak ada proses kompresi, maka ukuran file RAW jauh lebih besar dibanding JPEG (sekitar 3 sampai 4 kali lebih besar)
  • Memakan waktu lebih banyak. Baik selama pemotretan (mengurangi kecepatan kamera terutama dalam mode burst) maupun selama pengolahan di komputer (karena ukuran file-nya).

Jadi Format Apa Yang Sebaiknya Dipilih?

  • Jika anda punya hardisk diatas 500GB, memory card minimal 4GB dan sedang memotret moment (atau orang atau tempat) yang istimewa, pilihlah mode RAW
  • Jika anda sedang memotret hal “biasa” atau butuh memotret berondongan (burst), atau hanya memiliki kapasitas hardisk dan memory card pas-pasan, pilihlah mode JPEG.
  • Atau ambil jalan tengah jika anda punya kapasitas hardisk dan memory card yang berlebih: pilih mode RAW + JPEG (kamera akan menyimpan 2 format sekaligus)

Catatan:

  1. Format file JPEG juga mengijinkan pengolahan foto yang lumayan banyak, hanya hasil dan cakupannya tidak seluas dan sebaik RAW.
  2. Tersedia juga format TIFF, namun sebaiknya tidak perlu dipakai karena ukuran file-nya yang segede gajah.

Definisi aperture adalah ukuran seberapa besar lensa terbuka (bukaan lensa) saat kita mengambil foto.

Saat kita memencet tombol shutter, lubang di depan sensor kamera kita akan membuka, nah setting aperture-lah yang menentukan seberapa besar lubang ini terbuka. Semakin besar lubang terbuka, makin banyak jumlah cahaya yang akan masuk terbaca oleh sensor.

apertureAperture atau bukaan dinyatakan dalam satuan f-stop. Sering kita membaca istilah bukaan/aperture 5.6, dalam bahasa fotografi yang lebih resmi bisa dinyatakan sebagai f/5.6. Seperti diungkap diatas, fungsi utama aperture adalah sebagai pengendali seberapa besar lubang didepan sensor terbuka. Semakin kecil angka f-stop berarti semakin besar lubang ini terbuka (dan semakin banyak volume cahaya yang masuk) serta sebaliknya, semakin besar angka f-stop semakin kecil lubang terbuka.

apertureJadi dalam kenyataannya, setting aperture f/2.8 berarti bukaan yang jauh lebih besar dibandingkaan setting f/22 misalnya (anda akan sering menemukan istilah fully open jika mendengar obrolan fotografer). Jadi bukaan lebar berarti makin kecil angka f-nya dan bukaan sempit berarti makin besar angka f-nya.

Depth of Field

Depth of field – DOF, adalah ukuran seberapa jauh bidang fokus dalam foto. Depth of Field (DOF) yang lebar berarti sebagian besar obyek foto (dari obyek terdekat dari kamera sampai obyek terjauh) akan terlihat tajam dan fokus. Sementara DOF yang sempit (shallow) berarti hanya bagian obyek pada titik tertentu saja yang tajam sementara sisanya akan blur/ tidak fokus.

PICT0235_mdUntuk mendapatkan DOF yang lebar gunakan setting aperture yang kecil, misalkan f-22 (makin kecil aperture makin luas jarak fokus) – lihat contoh foto diatas. Sementara untuk mendapat DOF yang sempit, gunakan aperture sebesar mungkin, misal f/2.8 – lihat contoh foto dibawah.

PICT0236_mdKonsep Depth of Field ini akan banyak berguna terutama dalam fotografi portrait dan fotografi makro, namun sebenarnya semua spesialisasi akan membutuhkannya.

Memahami Shutter Speed

Secara definisi, shutter speed adalah rentang waktu saat shutter di kamera anda terbuka. Secara lebih mudah, shutter speed berarti waktu dimana sensor kita ‘melihat’ subyek yang akan kita foto. Gampangnya shutter speed adalah waktu antara kita memencet tombol shutter di kamera sampai tombol ini kembali ke posisi semula.

Supaya mudah, kita terjemahkan konsep ini dalam beberapa penggunaannya di kamera:

  • Setting shutter speed sebesar 500 dalam kamera anda berarti rentang waktu sebanyak 1/500 (seperlimaratus) detik. Ya, sesingkat dan sekilat itu. Sementara untuk waktu eksposur sebanyak 30 detik, anda akan melihat tulisan seperti ini: 30’’
  • Setting shutter speed di kamera anda biasanya dalam kelipatan 2, jadi kita akan melihat deretan seperti ini: 1/500, 1/250, 1/125, 1/60, 1/30 dst. Kini hampir semua kamera juga mengijinkan setting 1/3 stop, jadi kurang lebih pergerakan shutter speed yang lebih rapat; 1/500, 1/400, 1/320, 1/250, 1/200, 1/160 … dst.
  • Untuk menghasilkan foto yang tajam, gunakan shutter speed yang aman. Aturan aman dalam kebanyakan kondisi adalah setting shutter speed 1/60 atau lebih cepat, sehingga foto yang dihasilkan akan tajam dan aman dari hasil foto yang berbayang (blur/ tidak fokus). Kita bisa mengakali batas aman ini dengan tripod atau menggunakan fitur Image Stabilization (dibahas dalam posting mendatang)
  • Batas shutter speed yang aman lainnya adalah: shutter speed kita harus lebih besar dari panjang lensa kita. Jadi kalau kita memakai lensa 50mm, gunakan shutter minimal 1/60 detik. Jika kita memakai lensa 17mm, gunakan shutter speed 1/30 det.
  • Shutter speed untuk membekukan gerakan. Gunakan shutter speed setinggi mungkin yang bisa dicapai untuk membekukan gerakan. Semakin cepat obyek bergerak yang ingin kita bekukan dalam foto, akan semakin cepat shutter speed yang dibutuhkan. Untuk membekukan gerakan burung yang terbang misalnya, gunakan mode Shutter Priority dan set shutter speed di angka 1/1000 detik (idealnya ISO diset ke opsi auto) supaya hasilnya tajam. Kalau anda perhatikan, fotografer olahraga sangat mengidolakan mode S/Tv ini.
  • Blur yang disengaja – shutter speed untuk menunjukkan efek gerakan. Ketika memotret benda bergerak, kita bisa secara sengaja melambatkan shutter speed kita untuk menunjukkan efek pergerakan. Pastikan anda mengikutkan minimal satu obyek diam sebagai jangkar foto tersebut.

Memahami Konsep Eskposur

Seringkali setelah membeli kamera digital baik slr maupun point & shoot, kita terpaku pada mode auto untuk waktu yang cukup lama. Mode auto memang paling mudah dan cepat, namun tidak memberikan kepuasan kreatifitas.

Bagi yang ingin “lulus dan naik kelas” dari mode auto serta ingin meyalurkan jiwa kreatif kedalam foto-foto yang dihasilkan, ada baiknya kita pahami konsep eksposur. Fotografer kenamaan, Bryan Peterson, telah menulis sebuah buku berjudul Understanding Exposure yang didalamnya diterangkan konsep eskposur secara mudah.

Peterson member ilustrasi tentang tiga elemen yang harus diketahui untuk memahami eksposur, dia menamai hubungan ketiganya sebagai sebuah Segitiga Fotografi. Setiap elemen dalam segitiga fotografi ini berhubungan dengan cahaya, bagaimana cahaya masuk dan berinteraksi dengan kamera.
Are you ready???

Ketiga elemen tersebut adalah:

  1. ISO – ukuran seberapa sensitif sensor kamera terhadap cahaya
  2. Aperture – seberapa besar lensa terbuka saat foto diambil
  3. Shutter Speed – rentang waktu “jendela’ didepan sensor kamera terbuka

Interaksi ketiga elemen inilah yang disebut eksposur. Perubahan dalam salah satu elemen akan mengakibatkan perubahan dalam elemen lainnya.

Perumpamaan Segitiga Eksposur

Mungkin jalan yang paling mudah dalam memahami eksposur adalah dengan memberikan sebuah perumpamaan. Dalam hal ini saya menyukai perumpamaan segitiga eksposur seperti halnya sebuah keran air. Shutter speed bagi saya adalah berapa lama kita membuka keran, aperture adalah seberapa lebar kita membuka keran dan ISO adalah kuatnya dorongan air dari PDAM, dan air yang mengalir melalui keran tersebut adalah cahaya yang diterima sensor kamera. Tentu bukan perumpamaan yang sempurna, tapi paling tidak kita mendapat ide dasarnya.

Artikel ini memberikan gambaran garis besar dan karakteristik mode pengoperasian auto dan scene pada kamera digital anda (rata-rata kamera saku dan SLR pemula selalu menyertakan kedua mode ini). Mode auto saat ini sudah lumayan handal untuk sekedar menghasilkan foto yang benar. Dan mode scene merupakan jalan tengah bagi fotografer yang ingin menambah kreativitas namun malas menggunakan mode manual.

Apakah dengan itu kita tidak perlu memahami mode manual? jawabannya tergantung sejauh mana kepentingan pemotret. Namun yang jelas mode manual menawarkan fleksibiltas dan kreativitas dalam menghadapi situasi apapun dan dalam menghasilkan foto yang benar-benar sesuai dengan kehendak artistik kita. Karena foto yang benar belum tentu foto yang baik.

Untitled-1 Oke mari kita kembali ke mode auto dan mode scene yang paling banyak digunakan:

  1. Mode Auto (A)Tidak perlu penjelasan apapun, pada intinya kita percayakan pemilihan keseluruhan setting (shutter-aperture-ISO-White Balance & Flash jika ada) pada otak di kamera. Kamera akan berusaha menebak karakteristik seluruh obyek dalam frame serta kondisi cahayanya lalu menentukan semua besaran setting diatas. Mode ini efektif untuk pemula, tetapi hanya menghasilkan foto yang benar namun bukan luar biasa
  2. Mode Portrait (biasa dilambangkan dengan ikon dengan kepala wanita)Kamera akan memilih DOF yang sempit (angka aperture sekecil-kecilnya) sehingga obyek yang di foto akan terisolasi dari background, sehingga ruang fokus hanya akan berada pada subyek saja sementara background terlihat kabur.
  3. Mode Macro (biasa dilambangkan dengan ikon bunga)
    Mode ini diperlukan saat kita ingin mengambil foto benda-benda kecil dari jarak dekat (close-up). Dengan mode ini, kita bisa mendekatkan ujung lensa sedekat-dekatnya (biasanya antara 2-8 cm dari obyek) sehingga benda sekecil apapun akan terlihat cukup besar dan detail.

    Dalam jarak sedekat ini, kita harus mengusahakan agar bidang obyek yang difoto sejajar dengan kamera, dan sebisa mungkin menggunakan tripod sehingga hasilnya tajam dan bidang fokusnya cukup.Akan saya pakai saat:

    - Saya memotret bunga, serangga, kupu-kupu, atau uang koin. Atau,

    - Saya akan memotret makanan sehingga memenuhi seluruh frame foto saya

  4. Mode Sport (biasa dilambangkan dengan ikon orang berlari)Mode ini dirancang untuk membekukan gerakan. Di mode ini, kamera akan memperkecil shutter speed sekecil mungkin sehingga ketika membidik subyek bergerak foto yang dihasilkan akan tetap tajam. Flash akan dimatikan dan hanya bekerja saat cahaya cukup. Akan saya gunakan ketika:- Saya memotret anak saya yang sedang menggiring bola

    - Saya akan memotret sebuah mobil yang sedang melaju

  5. Mode landscape (biasa dilambangkan dengan ikon gunung)Mode ini adalah kebalikan dari mode portrait. Kamera akan menggunakan angka aperture sebesar mungkin, sehingga bidang fokus foto (Depth of Field – DOF) bisa seluas mungkin. Dengan begitu keseluruhan bagian foto dalam frame akan tajam. Sesuai namanya, mode ini didesain dipakai saat kita memotret pemandangan alam, namun juga bisa digunakan saat memotret orang namun kita ingin background tetap terlihat tajam. Saya gunakan mode landscape saat:- Memotret terasiring yang indah di Bali

    - Memotret 10 orang yang berpose didepan Candi Borobudur

  6. Mode Night (dilambangkan dengan ikon bintang atau bulan)Mode ini didesain untuk bekerja dalam kondisi cahaya yang minim, baik saat malam maupun kita berada dalam ruangan yang remang. Kamera akan menaikkan ISO supaya dalam kondisi remang-pun sensor masih mampu menangkap cahaya dengan baik, mode ini juga berusaha membuat shutter speed yang lebih lama sehingga gambar tidak terlalu kabur dan biasanya secara otomotis flash bawaan kamera akan ikut menyala. Saya memakai night mode saat:- Mengambil foto dalam sebuah pesta malam

    - Memotret jalanan dimalam hari

  7. Mode Beach / Snow Menyeimbangkan eksposur supaya putih-nya salju atau pasir pantai tidak kehilangan detailnya dan juga tidak terlalu pucat dengan menaikkan eksposur. White balance diset di sinar matahari.
  8. Mode FireworksTanpa flash, shutter speed diset lumayan lama untuk merekam pergerakan percikan kembang api dengan baik. Mode ini sebaiknya diimbangi dengan memakai alat bantu untuk menstabilkan kamera supaya tidak goyang, misal tripod.pno
  9. Mode Panorama – memotret urutan foto yang nantinya akan digabung sebagai panorama.

Memahami Konsep ISO

Secara definisi ISO adalah ukuran tingkat sensifitas sensor kamera terhadap cahaya. Semakin tinggi setting ISO kita maka semakin sensitif sensor terhada cahaya.

Untuk mendapatkan gambaran yang jelas tentang setting ISO di kamera kita (ASA dalam kasus fotografi film), coba bayangkan mengenai sebuah komunitas lebah. Sebuah ISO adalah sebuah lebah pekerja. Jika kamera saya set di ISO 100, artinya saya memiliki 100 lebah pekerja. Dan jika kamera saya set di ISO 200 artinya saya memiliki 200 lebah pekerja.

Tugas setiap lebah pekerja adalah memungut cahaya yang masuk melalui lensa kamera dan membuat gambar. Jika kita menggunakan lensa identik dan aperture sama-sama kita set di f/3.5 namun saya mengeset ISO saya di 200 sementara anda 100 (bayangkan lagi tentang lebah pekerja), maka gambar punya siapakah yang akan lebih cepat selesai?

Secara garis besar, saat kita menambah setting ISO dari 100 ke 200 ( dalam aperture yang selalu konstan – kita kunci aperture di f/3.5 atau melalui mode Aperture Priority – A atau Av) , kita mempersingkat waktu yang dibutuhkan dalam pembuatan sebuah foto di sensor kamera kita sampai separuhnya (2kali lebih cepat), dari shutter speed 1/125 ke 1/250 detik. Saat kita menambah lagi ISO ke 400, kita memangkas waktu pembuatan foto sampai separuhnya lagi:1/500 detik. Setiap kali mempersingkat waktu esksposur sebanyak separuh , kita namakan menaikkan esksposur sebesar 1stop.

Anda bisa mencoba pengertian ini dalam kasus aperture, cobalah set shutter speed kita selalu konstan pada 1/125 (atau melalui mode Shutter Priority – S atau Tv), dan ubah-ubahlah setting ISO anda dalam kelipatan 2; missal dari 100 ke 200 ke 400 …dst, lihatlah perubahan besaran aperture anda.

Setiap pemilik kamera digital atau handphone kelas menengah yang dilengkapi kamera, paling tidak pernah menemui istilah white balance. Jadi apa itu white balance? Kenapa harus peduli?

Oke mari kita bahas dengan cara yang gampang dan aplikatif.

White balance adalah aspek penting dalam dunia fotografi dan berpengaruh pada hasil akhir foto. Alasan kenapa kita perlu memahami white balance adalah karena kita ingin warna foto kita seakurat mungkin. Jadi, white balance berpengaruh terhadap warna foto.

Agar lebih jelas silahkan lihat contoh foto dibawah ini:

Ketiga foto diatas adalah foto yang identik, bahkan ketiganya berasal hanya dari satu foto. Saya hanya mengubah setting white balance-nya dan hasilnya: ketiganya sangat berbeda warnanya. Foto A tampak sangat kebiruan, foto B terlihat cukup normal dan foto C terlihat kekuning-kuningan.

Perhatikan warna cahaya lampu neon dan lampu bohlam, beda bukan? itu karena masing-masing neon dan bohlam memiliki ”temperatur warna“ yang berbeda. Cahaya yang kekuningan (bohlam) disebut hangat sementara cahaya yang kebiruan (neon) disebut dingin.

Alasan kenapa kamera memerlukan setting white balance adalah karena kita memotret dalam kondisi pencahayaan yang berubah-rubah. Mata telanjang kita adalah alat yang super canggih dan mampu beradaptasi (menyeimbangkan) terhadap perubahan warna cahaya, jadi kertas putih dimanapun akan tampak putih bagi kita. Namun kamera tidaklah secanggih mata, karena itu kertas putih belum tentu terlihat putih bagi kamera dalam warna pencahayaan yang berbeda.

Jadi tujuan setting white balance adalah memerintahkan kamera agar mengenali temperatur sumber cahaya yang ada. Supaya yang putih terlihat putih, merah terlihat merah dan hijau terlihat hijau, atau dengan kata lain agar kamera merekam warna obyek secara akurat dalam kondisi pencahaayan apapun.

Bagaimana Cara Setting White Balance?
Setiap kamera memiliki cara setting yang berbeda, oleh karena itu anda harus merujuk pada buku manual jika memang sejauh ini belum menemukan caranya. Anda bisa mencari buku manual kamera di google. Kalau anda masih bingung, gunakan mode auto white balance. Kamera mungkin tidak selalu benar namun paling tidak lebih banyak benar.

Preset
Anda juga bisa menggunakan preset jika memang tersedia di kamera anda:

  • Auto – kamera akan menebak temperatur warna berdasar program yang ditanam dari sononya oleh pembuat kamera. Anda bisa menggunakannya pada kebanyakan situasi, namun tidak disetiap situasi (misal: memotret saat sunset/sunrise)
  • Tungsten – disimbolkan dengan ikon bohlam. Karena itu cocok digunakan saat anda memotret di ruangan dengan sumber cahaya bohlam.
  • Fluorescent – disimbolkan dengan ikon lampu neon, gunakan saat memotret di ruangan dengan pencahayaan lampu neon.
  • Daylight – biasanya dengan simbol matahari, gunakan saat berada di bawah sinar matahari
  • Cloudy – disimbolkan dengan awan, gunakan saat memotret di cuaca mendung
  • Flash – simbolnya kilat, jika anda menggunakan lampu flash (strobe) gunakan preset ini.
  • Shade – biasanya simbolnya rumah atau pohon, gunakan saat memotret dalam rumah (siang hari) atau anda berada di daerah bayangan – bukan sinar matahri langsung.

Cara Setting White Balance Secara Manual
Beberapa kamera menyediakan fasilitas setting white balance manual. Setting manual adalah cara paling akurat jika kita bingung dengan temperatur warna sumber cahaya kita. Ini biasanya terjadi dalam pemotretan dengan sumber pencahayaan yang lebih kompleks (lebih dari satu jenis temperatur warna).

Kita bisa memanfaatkan kertas putih untuk tujuan ini. Set white balace mode di custom atau manual, kemudian arahkan kamera supaya membidik kertas ini kemudian jepret. Kamera akan mendeteksi warna putih dan menyimpan temperaturnya, akan muncul konfirmasi di layar LCD kamera kalau setting sudah OK.

Pernah tidak mengalami kejadian seperti ini?

  • Anda pulang dari acara memotret dan baru menyadari bahwa tadi di sepanjang pemotretan anda menggunakan ISO 1200, padahal acaranya dilaksanakan di siang bolong saat ISO 100 saja cukup
  • Anda baru menyadari bahwa anda menggunakan settingan white balance untuk mendung, padahal dari awal acaranya dilakukan diruangan dengan penerangan lampu neon

Kesalahan mendasar seperti ini membuat kita harus bersusah payah melakukan koreksi pada foto, kalau satu dua sih tidak masalah, kalau ratusan foto?. Okelah, mungkin dengan bantuan software kita bisa melakukan koreksi dengan relatif cepat, tapi bukankah lebih enak kalau kesalahan seperti ini bisa dihindari sejak awal.

Ada 5 hal mendasar yang harus selalu kita periksa sebelum jari kita memencet tombol shutter pertama kali. Silahkan:

1. Periksa Settingan White Balance Anda

Settingan White Balance

Gunakan settingan white balance yang sesuai dengan kondisi, atau kalau anda percaya dengan kamera, set white balance di posisi auto.

2. Hidupkan Highlight Warning Kamera

Highlight Warning

Tips ini ampuh untuk menghindari foto yang overexposure. Highlight warning adalah penanda yang muncul di layar LCD kamera saat ada bagian foto yang terbakar alias overexposed.

3. Periksa Setting ISO

Settingan ISO

Settingan ISO menentukan seberapa peka sensor kamera kita terhadap cahaya, makin tinggi angkanya semakin peka. Kalau tadi malam anda memotret pesta ulang tahun teman anda di restoran, pastinya ISO yang digunakan akan berbeda dengan setting ISO saat akan digunakan untuk memotret acara gerak jalan dikantor.

4. Periksa Setting Ukuran dan Format Foto

Ukuran foto

Memotret ribuan foto sekaligus, seperti misalnya saat anda hunting di kebun binatang, tentunya membutuhkan pengaturan ukuran foto yang berbeda dibandingkan memotret keluarga di studio misalnya, apalagi jika kartu memori yang anda miliki kapasitasnya berbeda.

Format foto, apakah harus memilih JPG atau RAW juga wajib dipertimbangkan sebelum sesi foto anda dimulai.

5. Periksa Settingan Mode Ekspposur Kamera

Setting mode eksposure

Dalam kamera SLR atau pocket, biasanya tersedia beberapa pilihan untuk mode eksposur yang anda pilih: Manual-Aperture Priority-Shutter Priority-Mode Program-dan beberapa preset bawaan kamera. Pastikan anda sudah mengetahui mode mana yang akan anda pilih.

Lakukan 5 persiapan diatas, maka acara hunting, sesi memotret maupun iseng-iseng memotret acara di RT anda akan lebih lancar dan anda juga akan terlihat lebih profesional.


Memilih kamera SLR digital yang tepat adalah urusan pelik tersendiri dengan banjirnya merk dan tipe kamera di pasar. Saat ini paling tidak ada 10 perusahaan pembuat kamera (Canon, Fujifilm, Leica, Nikon, Olympus, Panasonic, Pentax, Samsung, Sigma, dan Sony)

Kami akan coba mengurai beberapa faktor non-teknis yang patut di pertimbangkan sebelum menentukan pilihan kamera SLR yang akan dibeli:

Kamera apakah yang sering dipakai teman – teman?

Kamera yang sering dipakai teman – teman juga bisa mempengaruhi keputusan kita. Jika teman-teman banyak memakai Canon, misalnya, belilah Canon. Jika mereka memakai Nikon, belilah Nikon. Ini akan memudahkan kita dalam kasus “meminjam lensa gratis.” Sebuah trik dasar yang layak dicoba, namun lebih baik jika istilah-nya diganti menjadi “saling bertukar lensa.” Jadi kita tidak modal dengkul saja.

Kemudahan dalam servis dan purna jual

Usahakan sebisa mungkin anda membeli kamera dari toko lokal di kota anda, kalaupun tidak usahakan membeli dari kota terdekat. Saat kamera butuh diservis atau di bersihkan sensornya misalnya, pelayanan akan lebih cepat dibandingkan harus mengirimkannya via paket dsb. Di samping itu, kita mungkin diperbolehkan meminjam gratis kamera cadangan yang disediakan toko selama kamera diservis (karena servis kamera biasanya butuh waktu yang cukup lama). Hal ini kadang lebih penting dibanding selisih harga yang tidak terlalu banyak. Juga layak dipertimbangkan adalah seberapa baik reputasi sebuah produsen kamera melayani keluhan pelanggannya.

Berapa anggaran kita

Anggaran merupakan faktor penting dalam menentukan kamera yang akan dibeli. Berdamai-lah dengan uang, membangun sistem SLR tidak hanya membutuhkan kamera, namun juga lensa dan beberapa aksesori penting lainnya (software pengolah foto, komputer, tripod, filter, flash, tas kamera, batere cadangan dll). Kalau dikantong ada Rp.20 Juta, tidak bijak kalau semuanya dihabiskan untuk kamera saja. Membangun sistem SLR adalah jalan panjang yang bisa menguras isi kantong jika tidak disiplin anggaran. Ada saran dari fotografer senior bahwa memiliki lensa yang berkualitas membuat foto kita lebih bagus dibanding jika memiliki kamera bagus namun lensanya jelek.

Seberapa serius anda

Penting ditanyakan adalah seberapa serius anda ingin terjun ke dunia fotografi. Jika sejak awal anda ingin terjun serius ke dalam fotografi, jangan jauh – jauh dari Nikon atau Canon. Kedua produsen ini adalah penguasa pasar kamera SLR. Delapan dari 10 kamera SLR memiliki logo Canon atau Nikon di body-nya (masing-masing sekitar 40%). kenapa mereka bisa sebegitu dominan? jawabannya adalah karena mereka juga serius. Fotografer pro pada waktunya akan memerlukan lensa atau aksesori khusus untuk memenuhi kebutuhan kerjanya. Flash khusus macro atau lensa 600mm dengan stabilizer misalnya, Nikon dan Canon menyediakan beragam aksesori yang bisa memenuhi kebutuhan kita, dan lebih penting lagi stok-nya tersedia di kota kita (atau paling tidak di Jakarta). Berbeda kalau kita tidak punya tuntutan “segila” itu, saya rasa salah satu dari 9 merek diatas akan mampu mencukupi kebutuhan kita.


Semua kembali pada anda untuk memilih...........!!!